Jumat, 11 Juni 2010

danau Linting


Danau Linting! Namanya begitu asing di telingaku. Pertama kali mendengarnya dari seorang teman di jurusan yang sibuk mempromosikan keindahan danau tersebut. Letaknya di daerah Namorambe, katanya. Keterangan itu terasa tak member titik terang bagiku, toh aq memang tak tau dimana letak Namorambe. Rencana pun di susun, kami satu kelas berencana jalan-jalan ke danau tersebut. Sayangnya, beberapa kali rencana di susun selalu gagal.
Hari itu, aq lupa tgl brapa. Kreatif rapat proyeksi majalah. Setelah rapat selesai dilanjutkan rapat agenda jalan-jalan. Aq pun mengambil kesempatan untuk mengompori kawan-kawan agar jalan-jalan ke Danau Linting. Berhasil, kawan-kawan setuju. Namun masalahnya tak satupun dari kami yang pernah pergi ke sana.
Aq jadi ragu untuk melanjutkan misiku. Takutnya ntu danau tak seindah yang dibayangkan. Namun keputusan rapat sudah di ambil. Minggu, 21 Pebruari agenda jalan2 kreatif ke danau linting dengan PJ aq sendiri. Wadouw..!!
Sampai di rumah aq masih memikirkan agenda kami tadi. Gak asyik kayaknya klo smua blank ntar paz pigi. Apalagi aq PJ nya. Yach..daripada jadi PJ gak jlas, so… sabtu 20 Pebruari memutuskan untuk berangkat ke Danau Linting bareng Yokko, teman sekamar sekaligus bendahara kreatif. Tujuanku adalah agar saat kami berangkat esok sudah ada penunjuk jalan yang pasti hingga resiko nyasar tak perlu ditakuti
Berbekal keterangan yang kami cari di internet, sabtu skitar pukul 10 kami berangkat dengan mengendarai si jago merah, motor kesayanganku. Kami melewati jalur medan-deli tua-patumbak- lalu desa siguci dan si bunga hilir. Danau silinting terletak di desa tiga juhar, STM hilir deli serdang. Cukup banyak desa yang kami lewati hingga tak terekam dengan jelas dalam ingatan. Yang pasti, tak begitu sulit untuk mencapai danau ini. Selain karena jalan yang dilewati lumayan bagus, juga karena tak begitu banyak persimpangan jalan. Hanya lurus saja mengikuti jalan aspal hitam serta ditambah Tanya sana-sini ke penduduk setempat. Memasuki desa Tiga Juhar suhu udara mulai berubah, dingin dan sejuk. Jalan sedikit berkelok-kelok. Dari sela-sela pepohonan di kanan-kiri jalan, sesekali tampak pemandangan nan indah nun jauh disana, jejeran bukit barisan dengan hijaunya yang menyejukkan mata. Total lebih dua puluh kali kami bertanya pada penduduk setempat saat perjalanan pergi (maklum, dari pada nyasar kan lebih baik bertanya). Uniknya ada sebagian dari warga yang kami tanyai mengaku tak mengenal danau linting. Padahal mereka penduduk asli desa tersebut. Wah..wah…! saying sekali ya! Bagaimana Danau Linting mau dikenal kalau penduduk asli di sekitar danau tersebut berada juga tak mengenalnya.
Kami melanjutkan perjalanan. Salah seorang warga yang kami Tanya mengatakan bahwa danau tersebut berada di sebelah kiri kalau kita dari medan.
“Kira-kira sekitar lima belas menit lagi nak. Ikuti saja jalan aspal ini. Nanti ada plang penanda tempat danau itu berada” begitu terangnya.
Namun lebih dari lima belas menit kami belum juga menemukan danau itu. Ah…semakin penasaran saja rasanya.
Perjalanan ,kami terhenti saat di depan kami terlihat jalan tanah biasa dengan batu-batu kecil. Aku mematukan mesin si jago merah. Ku lihat sekeliling. Perkebunan sawit di sekeliling. Sunyi. Kulihat ke depan. Jalan itu merupakan turunan. Di bawah sana, sebuah jembatan gantung yang tampak sudah tua namun tetap kokoh tegak berdiri. Sesaat aku teringat keterangan yag kudapat dari internet. Informasi yang kudapat dari internet menyebutkan, sekitar sepuluh kilometer dari danau linting terdapat sebuah jembatan gantung terpanjang di sematera utara yang menghubungkan antara deli serdang dan simalungun.


“ini pasti jembatan yang dimaksud di internet itu” hatiku berdialog.
Jembatan gantung itu sangat jauh dari apa yang aku bayangkan. Sebelumnya aku membayangkan sebuah jembatan gantung dengan sungai indah dibawahnya dan kendaraan yang lewat berseliweran. Kenyataannya, meski tak seperti yang kubayangkan, namun tetap mengundang decak kagum bagiku. Menghubungkan dua buah bukit dengan pepohonan rindang dan rapat (lebih tepat disebut hutan). Suara burung berkicau di tambah suara deras air di bawah jembatan benar-benar membuat damai hati ini. Jangan heran jika kalian ke tempat ini namun tak melihat sungai seperti yang kusebutkan. Sebab memang sungai itu tak terlihat oleh mata, selain karena lebatnya pepohonan juga karena jarak antara jembatan dan sungai tersebut lumayan jauh, 200 meter cuy!!!
Informasi yang kudapat menyebutkan kalau jembatan ini dibangun pada tahun 1982 dengan panjang sekitar 150 meter. Dari tengah jembatan ini kita bias melihat panorama indah menyegarkan mata. Barisan bukit barisan terlihat seperti berlapis-lapis.
Ada kejadian lucu ketika kami berada di jembatan gantung. Ceritanya, berhubung suasana di jembatan itu sunyi timbul rasa was-was di hatiku dan yokko. Ketika kami hendak pulang dan sedang berada di tengah-tengah jembatan, jembatan itu bergoyang seperti gempa. Awalnya aku mengira karena kami berjalan di atasnya. Namun ketika kami berdua menghentikan langkah kami dan tak bergerak pun jembatan itu tetap bergoyang. Wajah yokko pun berubah pucat. Pikiranku melayang ke hal-hal buruk.
“mungkinkah jembatan ini akan roboh?” aku bicara dalam hati.
Bergegas kami ke arah si jago merah kuparkir. Kudengar mulut yokko komat-kamit membaca ayat kursi. Aku pun tak lupa membaca do’a, memohon perlindungan pada yang di atas. Ketika panic kami kian memuncak, terdengar gelak tawa dari arah ujung jembatan, arah ke simalungun. Kulihat anak sekolah berseragam SMP yang tapi melewati jembatan itu tergelak sambil melihat kea rah kami. Ah..scheisse! tenyata mereka mengerjai kami. Mereka yang sengaja menggoyang jembatan agar kami takut. Dasar!
Setelah berfoto-foto ria, aku kembali teringat dengan tujuan utama perjalanan kami.


Danau Linting! Kami pun bergegas kembali kea rah pulang. Bertanya lagi dengan penduduk sekitar. Akhirnya, sampai juga ke tempat yang dituju. Tak ada plang seperti yang di sebutkan warga tadi. Jalan menuju danau tersebut menanjak dengan jalan berbatu. Aku sedikit kepayahan mengendarai motorku. Sesampai di atas terlihat pemandangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Sebuah danau dengan luas sekitar sau hektar seolah tersenyum pada kami. Airnya yang jernih berwarna biru seakan melenyapkan lelah kami seteleh menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Aku langsung mengeluarkan kamera… foto-foto..!!!!



Air danau linting hangat dan mengeluarkan aroma belerang. Sampai saat ini, belum ada informasi tentang kedalaman danau tersebut. Konon, danau ini merupakan danau misterius sehingga penduduk setempat menyarankan untuk tidak mandi di sini. Katanya sih sudah pernah ada korban jiwa. Aku dan yokko berkeliling danau sambil foto-foto. Tak henti-hentinya dalam hati bersyukur dilahirkan di tanah Indonesia. Negeri yang kaya akan kekayaan alam meski sampai saat ini belum termanfaatkan secara maksimal.

3 komentar:

  1. bodoh u bukan dinamorambe..
    klu u gak tau lokasinya jgn sok2 an u blg dinamorambe..
    buat malu aja kau jd org medan

    BalasHapus
  2. Nama saya KEMAL saya dari Tim Indipendet PANDA Pecinta Alam Indah
    Insyallah Tgl 17 Nov kami akn kesana
    boleh gak minta info mngnai lokasi danau linting ni...
    Terima Kasih

    BalasHapus
  3. letak jembatan gantungnya dimana ya.??
    aku barusan aja dri sana, tapi gak ngeliat jembatan gantung yang anda sebutkan tadi..

    BalasHapus

komentar yg membangun yach..